Kamis, 25 November 2010

tugas matakuliah agama EVALUASI 3.6 HAL 62-63

Nama : michael julpri tarigan
NIM : 090901071
Fakultas : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Daperetemen:Sosiologi
EVALUASI 3.6 HAL 62-63

1. Penjelasan dengan menggunakan kata-kata sendiri tentang latar belakang munculnya istilah dan doktrin Tritunggal dalam sejarah gereja mula-mula.
2. Penjelasan yang singkat dan sistematis tentang konsep yang salah mengenai Allah Tritunggal sejak masa sebelum sampai sesudah Reformasi.
3. Penjelasan yang singkat dengan menggunakan kata-kata sendiri mengenai konsep Tritunggal baik menurut Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru dan implikasinya bagi dasar kepercayaan orang Kristen pada masa kini.
4. Penjelasan singkat dengan menggunakan kata-kata sendiri mengenai eksistensi dan peran Bapa sebagai Oknum I Tritunggal dan implikasinya dalam kepercayaan dan perilaku Kristiani.
5. Penjelasan singkat dengan menggunakan kata-kata sendiri mengenai eksistensi dan peran Anak sebagai Oknum II Tritunggal dan implikasinya dalam kepercayaan dan perilaku Kristiani.
6. Penjelasan singkat dengan menggunakan kata-kata sendiri mengenai konsep keselamatan Holistik yang mencakup seluruh pengalaman hidup didunia, kematian, dan kehidupan sesudah kematiaan.
7. Penjelasan singkat dengan menggunakan kata-kata sendiri mengenai eksistensi dan peran Roh Kudus sebagai Oknum III Tritunggal dan implikasinya dalam kepercayaan dan perilaku Kristiani.
8. Penjelasan singkat mengenai beberapa pemahaman yang salah mengenai Roh Kudus dan memberi penjelasan yang benar mengenai hal itu.





Jawaban :

1. Latar belakang munculnya istilah dan doktrin Tritunggal dalam gereja mula-mula adalah dimulai ketika gereja lahir, tepatnya d Jerusalem, dengan konteks agama Yahudi yang mengutamakan doktrin Monotheisme yang mutlak(Allah adalah Esa) yang berpengaruh pada gereja orang Kristen mula-mula. Kemudian gereja Kristen mula-mula ini mengalami pertumbuhan yang mempunyai pokok pengakuan iman yang baru yaitu Yesus Kristus adalah Tuhan. Sebenarnya istilah Tritunggal berasal dari Tertulianus yang berdasarkan apa yang dikemukakan 1 Yohanes 5:7. Meskipun istilah ini tidak pernah dipergunakan dalam Alkitab secara harfiah , namun oleh karena Tertulianus masih ingin mempertahankan keesaan Allah, ia menempatkan Anak lebih rendah derajatnya. Barulah setelah pendapat tertulianus ini mengenai doktrin Tritunggal, pendapat-pendapat lain yang berbeda bermunculan.
2. Pada masa sebelum dan sesudah Reformasi terdapat banyak konsep-konsep yang salah mengenai Allah Tritungal. Contoh-contohnya pada sebelum Reformasi antara lain :
a. Tertulianus membedakan Oknum I dan Oknum II dalam derajat, artinya Anak lebih rendah derajatnya dari Bapa.
b. Origenes dalam perkataannya bahwa Anak lebih rendah dari Bapa dan Roh Kudus lebih rendah dari Anak dan Bapa karena Anak adalah ciptaan Bapa, dan Roh Kudus ciptaan Bapa dan Anak.
c. Arians yang dipengaruhi Origenes menyangkali keilahian Anak dan Roh Kudus.
d. Kaum Monarchis : keberadaan dan keilahian Anak hanyalah sekedar penjabaran dan cara penampilan yang berbeda dari Bapa
 Dinamik Monarchis : Yesus Kristus adalah manusia semata dan Roh Kudus bukan Oknum atau pribadi tetapi hanya pengaruh atau semangat ilahi.
 Modalistik Monbarchis : ketiga Oknum Allah adalah 3 mode manifestasi yang berbeda-beda dari Allah dan ada yang melalaikan kesatuan Allah.
Kesalahan-kesalahan mengenai pendapat atau konsep ini mendorong gereja(pada abad 4) untuk menemukan rumusan yang benar. Maka, dilakukan sidang gereja di Nicea dan Konstantinopel bahwa hanya ada satu Allah dan bahwa Anak dilahirkan(berasal) dari substansi Bapa, karena itu Anak sederajat dengan Bapa, dan Roh Kudus juga sederajat dengan Bapa dan Anak. Namun, kesalahpahaman tentang doktrin ini muncul kembali sesudah masa Reformasi, contohnya antara lain :
a. Golongan Arminians, yang demi menegaskan kesatuan Allah malah cenderung merendahkan Oknum II dan Oknum III.
b. Golongan Lutheran(Hegel dan Scheleimacher). Mereka mengikuti modalisme.
c. Karl Barth. Ia menerima adanya ketiga oknum. Allah Tritunggal dan tidak merendahkan oknum lain, tetapi penjelasannya belum mencakup segi keesaan dan ketigaan dari Allah Tritunggal.
3. Konsep Tritunggal dalam Perjanjian Lama kurang lengkap karena lebih menekankan pengajaran tentang keesaan Allah, meskipun begitu ada juga indikasi-indikasi tentang eksistensi Allah, biktinya :
a. Keberadaan Malaikat Tuhan yang bukan malaikat biasa karena Ia berfirman atas namaNya sendiri dan mau disembah(Kejadian 16:10, Yosua 5).
b. Roh Allah yang memberi ilham kepada manusia(Yohanes 11:5).
c. Diperlihatkan oknum yang lebih dari satu(Mazmur 33:6).
d. Disebutkan tentangf Allah yang berbicara, Mesias dan Roh Allah(Yesaya 48:6)
e. Ketiga oknum tersebut disebutkan(Yesaya 63:8-10).
Konsep Tritunggal dalam Perjanjian baru lebih jelas mengenai doktrin ini, buktinya :
a. Bapa bermakna Allah Tritunggal dan menunjuk pada Oknum I.
b. Anak yang berfungsi sebagai penebus dan Penyelamat umatNya, bukan Yahwe seperti dalam Perjanjian Lama.
c. Roh Kudus tinggal didalam hati orang Kristen atau gereja(Kisah Para Rasul 2:4)
d. Allah memberikan AnakNya kedalam dunia(Yohanes 3:16).
e. Bapa dan Anak mengirim Roh Kudus(Yohanes 14:26)
f. Matius 3:16-17 berbicara : anak dalam diri Yesus Kristus yang dibabtiskan, Bapa yang berbicara, Roh dalam wujud burung merpati.
Implikasi bagi dasar kepercayaan orang Kristen pada masa kini adalah keberadaan Allah secara kekal terdiri dari 3 oknum dan keberadaan Allah ada 1 hakekat dan tidak dapat dipisahkan/dibagi-bagi(Homo-Usios). Kuasa, kasih dan kebenaran tidak dapat dibagi secara sempurna pada tiga oknum tersebut.
4. Eksistensi dan peran Bapa sebagai Oknum I Tritunggal terlihat sejak Perjanjian lama. Nama Bapa dipakai untuk pemerintahan Allah Tritunggal yang Theokratis atas bangsa israel sebagai umatNya dan dipergunakan sebagai asal mula(Bapa) dari segala ciptaan juga dipergunakan bagi Oknum I Allah Tritunggal. Bapa berada pada urutan pertama sehingga disebut Oknum I karena dariNyalah lahir/berasal Sang Anak. Tapai Bapa tidak lebih kekal dan berkuasa daripada Anak dan Roh Kudus. Pembedaan sebagai Oknum I dan Anak dan Roh Kudus adalah dalam keberadaanNya sebagai asal dari Oknum II dan Oknum III dan dalam fungsinya pencipta dan pemelihara segala makhluk. Peran-peran Bapa lainnya antara lain Dia telah mengutus Anak untuk keselamatan manusia, Ia yang mengadili, membalas kebaikan dengan berkat/kejahatan dengan hukuman,dll.
Implikasi dalam kepercayaan dan perilaku Kristiani adalah bahwa :
a. Keberadaan Allah yang agung dan tak terbatas itu jauh diluar jangkauan kemampuan manusia untuk memahaminya dan harus dipahami dan diterima dengan mata iman.
b. Keberadaan Bapa sebagai pencipta dan pemelihara adalah bahwa Dialah sumber kehidupan dan keberadaan kita. Tidak saja hidup kita tergantung kepadaNya tetapi Dia juga berdaulat penuh atas hidup dan tujuan hidup kita. Kewajiban kita adalah memuliakn nama Dia lewat kehidupan kita.
c. Memanggil, memohon dan berharap kepadaNya sesuai dengan pengenalan yang benar tersebut. Kita berdoa agar Dia memelihara kita.

5. Eksistensi dan peran Anak sebagai Oknum II Tritunggal tidak hanya ada dalam/lewat pernyataan diriNya sebagai manusia uyang bernama Yesus. Disebut Anak bukan karena perananNya sebagai juruselamat bagi manusia tetapi karena dilahirkan/berasal secara kekaldan ada bersama-sama Allah, setara dengan Allah, bahkan Dia adalah Allah sendiri karena KeilahianNya yang melampaui manusia dan segala makhluk. Pembedaannya dengan Oknum yang laindilihat dalam kelahiranNya(asalNya) secara kekal dari Bapa dan asal yang kekal dari Roh Kudus dan fungsi sebagai Penyelamat dan Perantara manusia. Peran-peran Dia yang lainnya adalah Anak mengerjakan apa yang diperintahkan Bapa, satu-satunya jalan kepada Bapa dan Sang Penyelamat bagi manusia, dan akan datang kembali sebagai Hakim.
Implikasi dalam kepercayaan dan perilaku Kristiani adalah :
a. menjadikan keselamatan yang Allah berikan yng merupakan kasih karunia sebagai dasar bagi tanggapan moral yang harus kita berikan lewat ketaatan terhadap perintahNya seperti kesepuluh Hukum Taurat dan juga harus meyakini bahwa keselamatan dan jaln untuk menemui Bapa hanyalah dari dan lewat Dia saja.
b. Kepercayaan dan penyembahan(doa, pujian dan ucapan syukur) jangan hanya kepada Bapa saja tetapi juga kepada Anak.
c. Kepercayaan kepada Anak harus diikuti dengan kasih kepada Allah lewat kasih terhadap sesama(memiliki kedekatan) dan juga bertanggung jawab memelihara alam semesta.
d. Serta haruslah diikuti dengan pemahaman bahwa keselamatan itu adalah anugerah Allah dan bukanlah karya manusia, dan anugerah tersebut diterima lewat iman.
6. Konsep keselamatan yang bersifat Holistik yang diberikan oleh Anak yang mencakup seluruh pengalaman hidup didunia, kematian, dan kehidupan sesudah kematiaan maksudnya bukan hanya mencakup aspek batiniah seperti pengampunan dosa dan hidup yang kekal, tetapi juga menyangkut hal-hal jasmaniah seperti kelepasan dari penyakit dan ketertawanan/keselamatan dari permasalahan hidup dan kehidupn sehari-hari. Hiup kekal itu diterima bukan hanya kelak tetapi kini yaitu dalam bentuk kualitas hidup yang baru sebagai anak-anahk Allah karena yang dituntut dari orang yang telah meneriam keselamatan yaitu bersedia setia padaNya, berkorban, dibenci orang, menderita, kalau perlu mati demi keselamatan itu dan menolak pekerjaan Iblis. Kitab sucipun dapat memberi hikmat yang menuntun seseorang kepada keselamatan. Namun, itu diperoleh bukan karena ketaatan kita tetapi karena iman terhadap anugerah Allah lewat kurbn Yesys Kristus di kayu salib.

7. Eksistensi dan peran Roh Kudus sebagai Oknum III Tritunggal tidak hanya ada setelah gereja Kristen berdiri dan bertumbuh karena sejak Perjanjian Lama Roh Allah sudah diperlihatkan bekerja pada penciptaan dan juga berperan dalam nubuatan(mengilhami nubuat yng disampaikan para nabi) bisa berbentuk penglihatan, mimpi/langsung firman Allah. Roh Allah memberi inspirasi dan kemampuan kepada seseorang untuk melakukan suatu pekerjaan yang Allah kehendaki.
Peran Roh Kudus dalam Perjanjian Baru sebagai Pembaharu dan Penolong :
a. Roh Kudus memberi hidup baru dalam konteks kelahiran kembali yaitu merubah kesadaran seseorang dan membaharui keberadaannya dengan cara :
memberi panggilan, kepercayaan dan menobatkan juga menginsafkan akan dosa-dosa.
 Dengan menyucikan, mendiami, melaksanakan kehendak Allah. Tidak lagi mengikut daging tetapi menghasilkan buah-buah roh, dimampukan untuk hidup kudus, bersaksi, berdoa seturut kehendak Allah.
Roh Kudus menghibur seseorang dikala duka, menguatkan diwaktu menghadapi penganiayaan, mengajari diwaktu ada kebimbangan, mengalami pertumbuhan rohani sebagai anak Allah, dll.
b. Roh Kudus memberi karunia khusus kepada setiap orang percaya. Memberi karunia supranatural, seperti berbahasa lidah, berbuat mukzijat, menyembuhkan orang sakit, bukan lewat proses belajar. Memberi karunia natural seperti mengajar, memberi, menghibur dan memimpin, diberikan lewat proses belajar.
c. Dia merubahkan dan mendiami serta bekerja membaharui setiap orang percaya sampai puncaknyayaitu saat kedatangan tuhan Yesus kedua kalinya.
Implikasi praktisnya :
a. Kepercayaan dan penyembahan jangan hanya kepada Bapa dan Anak saja tetapi juga kepada Roh Kudus.
b. Kepercayaan kepada kuasa Allah atas manusia yng tak dapat dibatasi oleh apapun. Kuasa itu dapat bekerja untuk membaharui seseorang bukan hanya dalam kepercayaan dan sikap hidup tetapi juga tingkah lakunya.
c. Roh Kudus kita jadikan dasar pengharapan bagi orang percaya bahwa Dia akan membaharui segala sesuatu sehingga terbentuk langit dan bumi yang baru. Pengharapan ini tidak boleh diresponi secara pasif, tetapi dengan aktif yaitu dengan partisipasi dalam pembenahan tatanan sosial-politik-ekonomi pada masa kini.

8. Pemahaman-pemahaman yang salah mengenai Roh Kudus :
a. Origenes dan golongan Arminians menagtakan bahwa Roh Allah lebih rendah dari Anak dan Bapa.
b. Arians menyebutkan bahwa Roh Kudus adalah ciptaan allah sebagaimana Anak adalah ciptaan bapa.
c. Golongan Marchianisme yang dinamis menegaskan bahwa Roh Kudus bukanlah Oknum tetapi pengaruh/kuasa ilahi semata.
Pemahaman-pemahaman yang salah ini diberikan penjelasan yang benar melalui Konsili Konstantinopel yang menegaskan Keilahian Roh Kudus. Dia sederajat dengan Anak dan Bapa karena Dia dilahirkan/berasal secara kekal dari Bapa dan Anak.

tugas mata kuliah agama Evaluasi 1.3 hal 21-22

Nama : Michael JulpriTarigan
NIM : 09090107
Pendidikan Agama Kristen Protestan
Evaluasi 1.3 hal 21-22


1. Penjelasan singkat dengan kata-kata sendiri tentang pengertian agama dan peranan agama dalam kehidupan manusia secara umum.
2. Definisi bagi agama Kristen dan penjelasan singkat dengan menggunakan kata-kata sendiri mengenai perbedaan agama Kristen dengan agama-agama lain.
3. Refleksi singkat dan praktis tentang peranan agama dalam pembentukan dan pengembangan kepribadian mahasiswa Kristen.

Jawaban
1. Agama merupakan kepercayaan seseorang terhadap sesuatu yang dianggap berkuasa dan lebih tinggi dari apapun(oknum yang dipercayai, contohnya dalam Kristen : Allah) karena manusia mengakui bahwa dirinya lemah dan takut akan kekuatan misterius yang didasari oleh iman. Agama juga mengikat dan mempunyai peraturan-peraturan dan larangan-larangan yang harus ditaati agar kehidupan manusia tidak kacau balau dan agama juga merupakan usaha konkrit manusia mendekatkan diri kepada Tuhannya supaya keluar dari dunia yang fana untuk beroleh keselamatan nantinya didunia yang baka. Peranan agama dalam kehidupan manusia secara umum :
a) Manusia memiliki dosa yang sangat besar, yang berasal dari dosa turunan maupun dosa yang dibuat pada saat manusia itu hidup. maka dari itu, agar manusia nantinya selamat didunia yang baka, atau nantinya akan lepas dari maut, karena di Alkitab tertulis "Upah dosa ialah maut..."(Roma 6:23), maka manusia menganut agama yang membuat hal itu bisa terjadi. Jadi, agama bisa berperan dalam kehidupan manusia untuk beroleh keselamatan.
b) Dalam kehidupan sehari-hari seringkali kita melihat manusia di zaman sekarang sudah rusak moralnya. Bahkan mungkin tidak kita sadari, sedikit demi sedikit moral kita terguncang karena pengaruh perkembangan zaman yang begitu pesat dan mudah sekali merayu/membujuk kita kepada hal-hal/perbuatan-perbuatan yang seharusnya tidak kita lakukan. Disinilah agama bisa menjadi media/alat bagi manusia dalam pemulihan krisis moralnya masing-masing. Sudah saya sebutkan tadi bahwa agama bisa membawa kita kedalam keadaan yang tidak kacau balau. Karena Tuhan pun sebenarnya telah menyuruh kita agar dosa tidak lagi berkuasa di dalam tubuh kita yang fana(Roma 6:12).
c) Agama juga dapat berperan dalam pembentukan dan pengembangan kepribadian, karena agama dapat mempengaruhi tingkah laku kita dalam masyarakat, entah itu dalam bidang hukum, politik, ekonomi, pendidikan, hubungan-hubungan sosial lain, maupun etika. Menjauhi larangannya tidaklah cukup untuk lebih dekat kepada Tuhannya. Agama bisa membawa kita untuk berusaha melakukan/menerapkan buah-buah roh yaitu kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri(Galatia 5:22-23) dalam kehidupan sehari-hari. Oleh sebab itu, semua merupakan akibat dari kepercayaan kita sebagai manusia yang beragama untuk membalas kebaikan yang telah Allah berikan kepada kita, karena sesungguhnya Allahlah yang terlebih dahulu mengasihi kita, sehingga kita mengasihi Allah(1 Yohanes 4:19).
2. Agama Kristen merupakan agama pernyataan. Pernyataan yang secara langsung maupun tidak langsung dari Allah. Ia menyatakan bahwa untuk beroleh keselamatan hanya ada satu jalan yaitu Jalan Kebenaran dan Hidup melalui Yesus Kristus(Yohanes 14:6). ia juga mengaruniakan AnakNya yang tunggal supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal(Yohanes 3:16). Agama Kristen membawa kita kedalam perubahan untuk beroleh keselamatan dengan memperlihatkan kepada semua orang bahwa orang Kristen berbeda dengan yang lainnya, karena kita adalah garam dan terang dunia(Matius 5:13-16) yang perbuatannya didasarkan oleh ajaran Kristus yaitu Kasih (1 Korintus 13).
Perbedaan agama Kristen dengan agama lain adalah :
1) Hanya Agama Kristenlah satu-satunya agama yang berani secara tegas menyatakan bahwa Yesus Kristus adalah juruselamat manusia(Kristus).
2) Agama Kristen menitikberatkan pada Kasih yang merupakan ajaran Yesus. Yesus mengajarkan kepada orang kristen bahwa hanya ada 2 hukum di dunia ini, yaitu hukum yang terutama dan hukum yang pertama(Kasih kepada Tuhan) dan juga hukum yang kedua yang sama dengan itu(Kasih kepada sesama) yang tertulis dalam Matius 22:37-39. Yesus mengajarkan kepada orang Kristen bahwa kita tidak boleh membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi balaslah kejahatan dengan kebaikan.
3) Agama Kristen didasarkan kepada apa yang dinyatakan Allah lewat kesaksian dalam Alkitab. Sebagai orang kristen yang percaya kepada Yesus Kristus, kita rela mengikuti Yesus Kristus yang telah dilantik sebagai juruselamat. Saat berkomitmen untuk mengikuti Dia, kita harus meninggalkan hal-hal yang duniawi dan benar-benar fokus dan sungguh mengikuti Dia seutuhnya. Allah sebagai Tuhan dari umat Kristiani menyatakan diri melalui Alkitab(kitab suci orang Kristen). Jadi, agama kristen berbeda dengan agama lain karena ada agama yang tidak dinyatakan oleh Tuhannya karena sesungguhnya agama yang mereka anut merupakan buah pikiran mereka sendiri yang mereka gunakan untuk menutupi rasa kelemahan dan ketakutan akan kekuatan yang mereka ketahui jauh melebihi pikiran/akal sehat manusia.
4) Agama Kristen memberitahukan kepada orang kristen bahwa Allah menjanjikan keselamatan yaitu kehidupan yang kekal dengan mengampuni dosa manusia dan pembaruan batin oleh Roh Allah. Ini kita ketahui melalui Alkitab dari kelahiran, pelayanan, kematian dan kebangkitan Yesus Kristus.
3. Agama sangat mempengaruhi hidup saya sebagai Mahasiswa Kristen. Sejak dari kecil, saya memang sudah diajarkan dan diajak untuk mengenal Allah dan Yesus Kristus sebagai Juruselamat. Orangtua saya selalu membawa saya setiap hari minggu ke gereja sejak saya masih balita. Namun, saat menginjak usia remaja, saat-saat dimana keadaan jiwa sedang labil(gampang terpengaruh dari pihak manapun), saya mulai bolos sesekali dari gereja. Bahkan saya sempat berfikir bahwa ke gereja itu hanyalah rutinitas belaka. Hanya datang, duduk, bahkan terkadang merasa ke gereja itu hanya bertujuan untuk bertemu teman. Hingga saat saya belajar sidi, saya disadarkan bahwa agama itu yang kita anut merupakan kesadaran kita dan kepercayaan kita sepenuhnya kepada Yesus Kristus. Pergi ke Gereja pun baru benar-benar saya nikmati saat saya belajar sidi. Sekarang ke Gereja adalah suatu panggilan dalam diri sebagai suatu kebutuhan rohaniah yang harus dipenuhi atau dijalankan. Jikalau saya tidak pergi ke Gereja satu kali saja, saya merasa ada kekosongan di hati saya. Saya sebagai penganut agama Kristen yang sudah merasa seperti lahir kembali, tidak hanya disadarkan melalui katekhisasi, melainkan juga dari pembelajaran Pendidikan Agama Kristen Protestan di SD s/d Perguruan Tinggi. Agama sangat terasa peranannya dalam pembentukan dan pengembangan Mahasiswa Kristen, karena Agama dapat mempengaruhi perilaku dan perbuatan seseorang Mahasiswa Kristen dalam kehidupan sehari-hari. Tidak hanya dilayani melalui kebaktian di Gereja, tapi melalui Agama kita dapat melayani dan bersaksi melalui perilaku kita sehari-hari, bahkan iman kita dapat kita tumbuh kembangkan dengan mengikuti organisasi-organisasi/unit pelayanan Mahasiswa Kristen dalam kampus.


Evaluasi 2.3 hal 38

1. Penjelasan dengan menggunakan kata-kata sendiri pengertian agama Kristen sebagai agama pernyataan dan perbedaannya dengan agama-agama non pernyataan.
2. Penjelasan singkat dengan menggunakan kata-kata sendiri proses penulisan dan pengilhaman Alkitab serta kanonisasi Alkitab.
3. Implikasi Alkitab sebagai media pernyataan Allah dalam kehidupan orang Kristen sehari-hari. Implikasi ini dilengkapi dengan penjelasan tentang contoh-contoh praktis.

Jawaban
1. Maksud dari Agama Kristen sebagai Agama pernyataan adalah bahwa Agama Kristen mempunyai dasar ajaran yang berasal dari pernyataan Allah tentang diriNya kepada manusia. Ada 2 pernyataan yang diberikan Allah kepada manusia :
● Pernyataan Umum : pernyataan yang diberikan oleh Allah kepada semua manusia tanpa terkecuali. Dia tidak membedakan agama, ras, suku, bangsa dan bahasa. Allah menyatakan bahwa Dialah yang menciptakan manusia yang serupa dengan diriNya(Kejadian 1:27) sehingga manusia harus melayani dan hanya menyembah Allah saja karena Allah sangat mengasihi manusia yang berpegang pada perintahNya(Keluaran 20:5-6). Namun, pernyataan umum saja belum cukup bagi manusia untuk mengenal Allah seutuhnya, sehingga Allah pun memberikan pernyataan lain.
● Pernyataan Khusus, contohnya : Hukum Taurat, kesaksian para nabi dan cerita tentang pengenalan Yesus Kristus dari lahir hingga kebangkitanNya untuk menebus dosa manusia. Pernyataan ini diberikan dalam bentuk lisan maupun tulisan. Penyataan ini seringkali dinyatakan secara khusus sekali ke pribadi masing-masing orang melalui pertolongan dan pengampunan Tuhan dalam masalah dikehidupan sehari-hari. Bahkan kadang pernyataan ini tidak masuk akal, namun hanya karena imanlah kita dapat menangkap pernyataan Allah kepada kita.
Agama kristen sebagai Agama pernyataan sangat mudah sekali dikenali karena Alkitab telah menunjukannya dalam surat-suratNya secara detail.
2. Dalam sejarahnya, Alkitab sempat hanya dianggap sama dengan buku-buku kuno lainnya. Karena seringkali isi Alkitab ada yang tidak masuk akal/tidak rasional. Maka dari itu, untuk dapat diterima dan dipercayai semua orang, Alkitab harus diteliti dan diuji dulu kebenarannya, benarkah bahwa Alkitab benar-benar berisi firman Allah. Sesungguhnya ada banyak nubuat dalam Alkitab yang digenapi ratusan tahun kemudian. Buktinya nubuat dalam Perjanjian lama ada yang diulang kembali dalam Kitab Perjanjian Baru. Jadi, Alkitab memang benar-benar firman Allah karena proses untuk menjadi sebuah Alkitab pun melewati proses yang lama dan rumit dan tak sembarangan orang bisa ikut dalam penulisan Alkitab. Proses penulisan dan pengilhaman Alkitab memerlukan proses yang lama sebelum menjadi Alkitab yang kita baca sekarang, yang merupakan buku terlaris di dunia. Penulisan Alkitab dilakukan oleh para nabi yang dalam penulisannya diberikan ilham oleh Allah. Dalam penulisannya pun Roh Kudus membimbing para nabi agar tulisan itu sentuh'a adalah firman Allah tanpa ada kesalahan. Maksud'a tanpa ada pengaruh budaya lingkungan dan pikiran para nabi itu sendiri. Setelah tulisan firman Allah telah selesai dibuat para nabi, barulah beberapa ratus tahun kemudian ditemukan kembali dan dikumpulkan. Dalam pengumpulan tersebut dilakukan jugalah proses penyeleksian atau “Kanonisasi”. Yang dimaksud Kanonisasi Alkitab adalah pengukuran tulisan-tulisan para nabi apakah tulisan tersebut benar-benar firman Allah (pernyataan dari Allah) atau bukan. Proses ini berlangsung cukup lama karena untuk menjadikan Alkitab sebagai kitab suci memang harus lewat seleksi yang ketat dan mendetail.
3. Implikasi Alkitab
Alkitab disebut sebagai media pernyataan Allah dalam kehidupan orang Kristen sehari – hari, karena melalui Alkitablah kita mengetahui bahwa Allah itu ada, dan Allahlah yang menyertai kita, menolong kita dalam kehidupan sehari – hari. Contoh'a : disaat kita sedang mengalami masalah / pergumulan hidup, kita berdoa dan curhat kepada Allah dan semua nasihat yang terbaik dari Allah bisa kita teukan dalam Alkitab. Menurut saya, Alkitab merupakan kamus pedoman hidup bagi setiap orang percaya (setiap orang Kristen). Jadi Alkitab merupakan tulisan yang diilhamkan Allah ini tidak boleh sama otoritas'a dengan tulisan-tulisan kuno lain'a. Meskipun Alkitab bisa menjadi media pedoman hidup kita, dasar dogmatika dan etika bagi orang Kristen, dan memiliki makna bagi setiap orang Kristen, tetapi Alkitab tidak berkuasa dan tidak boleh dijadikan sebagai jimat, karena hanya Tuhanlah yang berkuasa di jagad raya ini. Tetapi meskipun tidak berkuasa, isi Alkitab tidak ada kitab yang boleh diremehkan dan dianggap rendah dari kitab yang lain, meskipun beberapa kitab dalam Alkitab ada yang kurang bisa dipahami karena gaya bahasa'a dan kurang mengena untuk menjadi pedoman dalam kehidupan sehari – hari.

tugas matakuliah agama

Nama : Michael Julpri Tarigan
Nim : 090901071
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Poliik
Dapertemen sosiologi
Evaluasi 1.6 hal 120
1. Menjelaskan dengan kata-kata sendiri arti kata “ilmu pengetahuan” dan khnologi”,hubungan dan perbedaan diantara keduanya.
2. Mengidentifikasikan hubungan antara “iman” dan “ilmu pengetahuan” dalam panjang sejarah kehidupan manusia.
3. Mengidentifikasi batas-batas penjelajahan ilmu pengetahuan dan menjelaskan dengan singkat problema legitimasi ilmu pengetahuan pada masa post modernisme.
4. Mengidentifikasi hubungan yang bermakna antara iman dan ilmu pengetahuan dari sudut pandang etika Kristen.
5. Menjelaskan dengan kata-kata sendiri apa saja dampak positif dan negatif dari penggunaan dan pengembangan tekhnologi canggih dalam kehidupan manusia.
6. Memperlihatkan konstruktif tetapi kritis dalam penggunaan dan pengembangan tekhnologi canggih.


Jawaban :

1. Ilmu pengetahuan adalah hasil penelitian yang dilakukan berulang-ulang, teliti, teratur dan terbukti secara objektif.
Tekhnologi adala metode dan cara penerapan ilmu pengetahuan untuk kesejahteraan manusia.Hubungan diantara keduanya adalah bahwa tekhnologi itu tidak mungkin dikembangkan tanpa ilmu pengetahuan. Tekhnologi kadang-kadang merupakan hasil aplikasi pengetahuan yang praktis, tetapi di lain waktu, ia bersumber dari teori-teori ilmiah dan keduanya mempunyai dampak positif dan negatif.Perbedaan antara ilmu pengetahuan dan tekhnologi yaitu tujuan utama ilmu pengetahuan adalah meneliti alam, sedangkan tujuan utama tekhnologi adalah mengaplikasikan hasil penelitian yang dilakukan untuk mengubah alam demi kesejahteraan manusia.
2. Hubungan antara iman dan ilmu pengetahuan dalam sepanjang sejarah kehidupan manusia dibagi atas tiga periode :
a. Gereja Tumbuh-Pencerahan imulai dari abad 1-10. Dimana, di zaman Reinaissance ini, iman mendominasi ilmu pengetahuan atau sains(di abad pertengahan).Semboyannya adalah theologi(pengajaran Alkitab menurut tokoh-tokoh gereja) menjadi ukuran kebenaran untuk segala hal dalam kehidupan sehari-hari dan seharusnya mengontrol dan menyaring perkembangan ilmu pengetahuan, contohnya dalam proses penulisan Alkitab. Namun, para nabi menolak pengetahuan sekuler sehingga para tokoh gereja menjatuhkan hukuman kepada Galileo karena dia mengatakan hal yang bertentangan, bahwa bumilah yang mengelilingi matahari, bukan sebaliknya. Akibatnya, dalam zaman ini perkembangan ilmu pengetahuan menjadi lambat.
b. Periode ke 2 disebut juga Pencerahan dimasa abad 10-19, disebut juga zaman rationalisme dimana ilmu penegtahuan mendominasi iman. Semboyannya otonomireason dan rasio bahwarasiolah yang menentukan segalanya. Para ilmuan menolak pengajaran Alkitab karena cara kerja iman dinilai tidak dapat dipercaya karena tidak bersifat rasional tetapi bersifat subjektif dan rasional. Bagi siapapun yang tidak mengikuti prosedur ilmiah, maka penelitiannya ditolak. Akibatnya agama terancam karena rasio manusia dianggap dapat memecahkan dan mengatasi segala masalah.
c. Zaman Postmodernisme dimulai pada abad 20 hingga sekarang. Disini orang menyadari bahwa ilmu pengetahuan mempunyai keterbatasan dan muncul sikap yang lebih positif terhadap pengajaran Alkitab. Di zaman ini, terlihatlah pergeseran dalam paradigma berilmu dan beriman.
3. Ilmu Pengetahuan mempunyai dua cara kerja yang dibagi atas :
a. Deduktif(rasionalis) yang biasa dipergunakan dalam ilmu pasti dan tanpa dipengaruhi oleh pengamatan dan pengalaman.
b. Induktif(empiris) yang biasa dipergunakan dalam ilmu-ilmu alam, seperti kimia, fisika, astronomi, dan lain-lain danjuga yang berdasarkan pengamatan dan penglaman.Kedua cara kerja ini memunyai batas-batas penjelajahan :
a. Ilmu Pengetahuan dimulai dan diakhiri dari pengalaman manusia.
b. Ilmu Pengetahuan haruslah bersifat rasional.

Kedua cara kerja tersebut juga asilnya tidak memiliki legitimasi mutlak yang terlihat jelas pada era postmodernisme bahwa ilmu penegtahuan adalah problema legitimasi yaitu identik dengan krisis ilmu pengetahuan. Era ini berkaitan dengan kebudayaan dan dapat dilihat disini bahwa keabsolutan itu runtuh karena paradigma yang berbeda dari tiap-tiap tokoh, sehingga hasilnya berbeda bahkan bisa bertentangan karenanya legitimasi ilmu pengetahuan menjadi dipermasalahkan.
4. Iman berfungsi sebagai norma kebenaran atau nilai-nilai tertinggi dalam kehidupan orang beriman. Namun, iman kadang diartikan tidak harmonis dengan ilmu pengetahuan. Penyebabnya adalah pendekatan yang salah terhadap Alkitab karena mempergunakan pendekatan harafiah. Untuk menghindari hal tersebut dan supaya kita memahami hubungan yang bermakna antara iman dan ilmu pengetahuan dari sudut pandang etika Kristen, maka :
a. Alkitab tidak boleh diperlakukan atau dituntut untuk memenuhi kriteria buku teks ilmu pengetahuan.
b. Alkitab tidak boleh dipahami secara harafiah.
c. Alkitab harus diteliti dalam konteks bahasa asli dan naskah yang mendekati naskah asli.
d. Meyakini bahwa Alkitab itu ditujukan untuk orang yang terdahulu dan pada masa kini.
e. Mengetahui bahwa Alkitab dalam pembuatannya menggunakan konsep dan sarana zaman penulisan.
5. Tekhnologi amat dibutuhkan untuk meningkatnya kesejahteraan manusia. Tekhnologi tidak mungkin dikembangkan tanpa ilmu pengetahuan dan tekhnologi yang sangat kita butuhkan ini menpunyai dampak. Dampak itu bisa positif dan bisa juga negatif.
Dampak positif dari penggunaan dan pengembangan tekhnologi canggih dalam kehidupan manusia :
a. Tekhnologi dapat meningkatkan kesejahteraan manusia.
b. Dengan tekhnologi, manusia dapat dibebaskan dari kemiskinan, penyakit, kebodohan, dan lain-lain.
c. Bisa meningkatkan komunikasi dan perolehan informasi.
d. Transportasi untuk berpergian ke tempat-tempat jauh tersedia sehingga lebih cepat sampai ketujuan.
e. Tekhnologi dapat memberi banyak waktu luang sebab waktu melakukan kegiatan menjadi lebih singkat.
f. Dan lain-lain.
Dampak negatif dari penggunaan dan pengembangan tekhnologi canggih dalam kehidupan manusia :
a. Tekhnologi bisa mengakibatkan kerusakan lingkunag hidup.
b. Tekhnologi bisa mengakibatkan ketimpangan dalam hal politik dan ekonomi. c. Tekhnologi bisa menjadi sarana pembunuhan manusia secara massal, contohnya saja jumlah tindakan aborsi dalam masyarakat meningkat pesat karena mudah melakukan aborsi, sehingga tidak ada lagi rasa takut melakukan hubungan seksual di luar nikah.
6. Sebagai mahasiswa Kristen kita harus konstruktif tetapi kritis dalam penggunaan dan pengembangan tekhnologi canggih karena iman dan ilmu pengetahuan seharusnya saling terbuka dan saling menghormati dan perbedaan juga persamaan diantara keduanya harus dipahami sehingga keduanya bisa saling mengisi dalam kehidupan manusia yang berilmu dan beriman. Kita juga harus menerapkan analisis dan filosofis ilmu pengetahuan terhadap data keagamaan mengingat bahwa ruang lingkup kerja ilmu pengetahuan dan tekhnologi terbatas yaitu dimulai dan berakhir pada pengalaman manusia dan ilmu pengetahuan tekhnologi mempunyai keterbatasan legitimasi yang tidak selamanya yang dibicarakannya itu benar. Meskipun tekhnologi kita butuhkan untuk hidup dan mengembangkan ilmu pengetahuan, sikap kita sebagai mahasiswa Kristen terhadap perkembangan tekhnologi adalah tidak seharusnya orang Kristen mendewa-dewakan tekhnologi karena tekhnologi bisa menjadi ancaman bagi kesejahteraan manusia dan kita harus mendukungnya dengan sikap kritis, sikap yang mendukung dan harus menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, serta peduli akan pendidikan agar lingkungan hidup terpelihara dan keadilan sosial terjamin.

Kamis, 11 November 2010

Poroposal Penelitian Deskriptif STUDI DESKRIPTIF PENERAPAN KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI DI SMA SANTA MARIA MONICA BEKASI


Poroposal Penelitian Deskriptif

oleh
Nama : Michael Julpri Tarigan
Nim :090901071
Mata Kuliah :MPK
Dosen :Drs.Henri Sitorus,Msi

Universitas Sumatera Utara
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Dapertemen Sosiologi
2010/2011

1. Latar Belakang Masalah
Belakangan ini, seiring dengan perkembangan jaman dan teknologi di era globalisasi yang tengah ramai dibicarakan di masyarakat kita serta mengenai era perdagangan bebas yang akan dimulai sebentar lagi, pemerintah mencanangkan kegiatan – kegiatan pembaruan yang kelak akan berguna guna menghadapi era globalisasi dan perdagangan bebas .

Mewujudkan pemuda – pemudi yang dapat menghadapi era globalisasi dan perdagangan bebas, serta dapat menjadi wakil Indonesia dalam mengembangkan segala potensi Negara kita nantinya yang tetap berdasar pada dasar Negara kita yakni PANCASILA tentu menjadi cita –cita pemerintah yang harus segera diwujudkan dengan strategi yang efektif mengingat sedikitnya waktu yang tersisa.
Pendidikan adalah sektor yang merupakan bagian penting dari usaha pemerintah guna mewujudkan cita citanya. Adapun pemerintah segera memberdayakan sistem Kurikulum Berbasis Kompetensi atau “KBK” guna mendapatkan hasil maksimal dari bidang pendidikan.
Berdasarkan pengamatan atas usaha dari pemerintah tersebut, penulis ingin mengetahui apakah sistem Kurikulum Berbasis Kompetensi tersebut sudah diterapkan secara baik dan menyeluruh di segala bidang khususnya di SMA Santa Maria Monica Bekasi.Dari uraian di atas, untuk mengetahui lebih lanjut tentang Kurikulum Berbasis Kompetensi di SMA Santa Maria Monica Bekasi, penulis bermaksud melakukan penelitian yang diberi judul “ Studi Deskriptif Penerapan Kurikulum Berbasis Kompetensi di SMA Santa Maria Monica Bekasi

2. Pembatasan dan Perumusan Masalah
Pembatasan masalah dilakukan agar permasalahan tetap berada pada lingkup yang sesuai serta selalu terarah, diperlukan beberapa pertanyaan yang membatasi masalah ini, sehingga dapat dicapai solusi yang tepat pada pokok permasalahan. Adapun pertanyaan – pertanyaan yang peneliti ajukan adalah sebagai berikut :
Apakah “KBK” sudah diterapkan dengan baik di SMA Santa Maria Monica Bekasi ?
Bagaimana pendapat semua perangkat sekolah baik tentang sistem “KBK” ?

3. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Tujuan peneliti melakukan penelitian ini adalah :
Untuk mengetahui bagaimana sistem “KBK” di SMA Santa Maria Monica Bekasi
Untuk mengetahui tanggapan para perangkat sekolah tentang sistem “KBK” di SMA Santa Maria Monica Bekasi

4.Manfaat dari penelitian ini adalah :
Menambah pengetahuan khusnya bagi penulis dalam hal penelitian.
Sebagai bahan rujukan atau perbandingan bagi Bapak Kepala Sekolah SMA Santa Maria Monica Bekasi tentang “KBK” di SMA Santa Maria Bekasi sehingga dapat melakukan tindakan tepat yang efektif bila masih terdapat kelemahan sehingga SMA Santa Maria Bekasi dapat menjadi SMA Favorit.

5.. Landasan Teori
Landasan teori adalah bagian penting dalam suatu penelitian, adapun guna dari landasan teori adalah agar penelitian dapat tepat sasaran dan efektif. Adapun beberapa landasan teori disini :
a. Sekolah.
Sekolah adalah tempat berkumpulnya seseorang yang ingin mendapatkan ilmu (siswa) dengan fasilitas lainnya dalam rangka membantu proses mendapatkan ilmu atau belajar.
b. Kepala Sekolah.
Kepala sekolah atau Headmaster adalah seseorang yang memegang pimpinan paling tinggi dalam sekolah. Biasanya berfungsi sebagai pengatur, pengawas, maupun pengambil kebijakan dengan tujuan efektifnya kegiatan belajar mengajar yang terjadi di sekolah.
c. Guru.
Guru adalah bagian dari fasilitas belajar seseorang yang ingin mendapatkan ilmu. Guru berfungsi sebagai pengajar atau media belajar dari siswa tersebut.
d. Siswa.
Siswa adalah seseorang yang ingin mendapat ilmu guna digunakan atau dikembangkan dalam kehidupannya guna mencapai cita – cita hidup atau tujuan dari siswa tersebut.
.
6.hipotesis
Penerapan Kurikulum Berbasis Kompotensi Di SMA Santa Maria Monica Bekasi

7.Variabel
Variabel 1 :Penerapan Kurikulum Berbasis Kompotensi
Variabel 2 : Sma Santa Maria Monica Bekasi

9. Daftar Pustaka
M. Widianto. Sosiologi untuk SMA jilid 1,2,3, Jakarta, 2004. Erlangga

Persamaan dan perbedaan teori karl mark dengan ralf dahendorf

Nama : Michael julpri tarigan
Nim : 090901071
Universitas sumatera utara

Persamaan dan perbedaan teori karl mark dengan ralf dahendorf

1. ralf dahendorf
Ralf Dahrendorf
Gagasan- gagasan dari teori konflik dari Ralf Dahrendorf adalah kritik terhadap perspektif fungsionalisme, dimana teori ini berasumi bahwa struktur masyarakat sebagai sebuah system yang terintegrasi secara fungsional, dimana keseimbangan dipertahankan melalui pola-pola tertentu dan lewat proses yang berulang-ulang. Secara singkat Ralf Dahrendorf menjelaskan point-point tentang teori fungsionalisme yang dikritiki yaitu:
1. Masyarakat adalah elemen-elemen struktur yang berkembang relatif stabil.
2. Masyarakat adalah elemen-elemen struktur yang terintegrasi dengan baik
3. Setiap elemen masyarakat mempunyai fungsi yaitu menyebabkan suatu sumbangan terhadap ketahanan system.
4. setiap fungsi structural sosial didasarkan oleh consensus nilai-nilai antar anggota-anggotanya.
Kritik Dahrendorf adalah fungsionalisme masih menggunakan teori yang konservatif dan sedikit sekali menjelaskan konflik, sehinggga muncul teori konflik di akhir tahun 1950 dengan kritik mengenai masyarakat yang jelas berbeda melalui pendekatan konflik yaitu:
1. Masyarakat dalam setiap waktu diatur oleh beberapa perubahan sosial yang tidak dapat dihindari.
2. masyarakat dalam setiap waktu menunjukan adanya konflik dan disensus, kedua-duanya merupakan fenomena masyarakat yang tidak dapat dihindari.
3. setiap anggota masyarakat akan memberikan adanya suatu sumbangan disintegrasi dan munculnya perubahana.
4. setiap masyarakat didasarkan atas tekanan para anggotanya oleh pihak lain.
Dahrendorf juga menerima, menolak, melakukan modifikasi teori-teori Karl Marx, pendekatan marxis lebih digunakan sebagai alat analisis saja, bahkan Dahrendorf melakukan revisi dari gagasan Karl Marx yaitu mengenai revolusi kelas, yang tidak terbukti kebenaranya dan bahwa masyarakat telah berubah menjadi struktur dari kapitalis menjadi post-kapitalis dan ini memperkuat bahwa kapitalisme belum tumbang. Dahrendorf juga menyatakan bahwa analisa dari Karl Marx mengenai masyarkat kapitalis sebagian benar namun diterapkan pada masyarakat sekarang ( Post-kapitalisme) harus dimodifikasi bahwa pengertian kelas yang mengarah pada alat produksi sudah tidak tepat tetapi lebih dijelaskan sebagai konteks kelompok-kelompok yang bertentangan disebabkan oleh pembagian wewenang didalam perserikatan yang dikoordinasi secara paksa. Dahrendorf juga menjelaskan cirri-ciri masyarakat industri modern yaitu:
1. Dekomposisi modal dimana diungkapkan oleh Dahrendorf sebagai dominasi korporasi dan penghilangan kapitalisme. Contohnya dari Erving M. Zeitlin (1994:167) yaitu:
“ Dewasa ini, lebih dari 2/3 perusahaan dalam masyarakat industri sudah merupakan industri saham gabungan dan pemilikan mereka melebihi 4/5 dari seluruh jumlah total pemilikan dan dijalankan oleh individu bahkan keluarga telah berhenti menjadi pola-pola yang dominan dalam organisasi ekonomi.”
1. Dekomposisi buruh, dengan adanya dekomposisi modal muncul dekomposisi buruh yang mengalami perubahan standar hidup, hal ini dijelaskan lagi yaitu adanya perubahan dari abad sebelumnya dimana buruh ditempatkan di sektor pertanian maupun pabrik serta memiliki prestise yang rendah yang banyak terlibat dalam pekerjaan manual ( blue-collar occupation) tetapi sekarang post-kapitalisme, pekerjaan buruh berubah mengalami peningkatan sebagai white collar occupation yakni perkerjaan yang bergengsi tinggi banyak melibatkan aktivitas mental dan adanya diferensiasi kerja seperti sales, managemen serta pekerja lapangan lainnya sehingga disini pekerja white collar tidak lagi dipandang proletariat industri. Ada 3 Dekomposisi buruh, yang dikelompokkan oleh Dahrendorf yaitu:
• Pekerja yang memiliki keterampilan ( skilled labour)
• pekerja yang memiliki separo keterampilan ( semi-skilled labour)
• pekerja yang tidak memiliki skill (unskilled labour)
Dalam hal ini, apa yang diramalkan oleh Karl Marx sama sekali mustahil terjadi disebabkan situasi yang tidak sama.
3. Munculnya Kelas Menengah
Dalam hal ini dijelaskan bahwa munculnya dekomposisi modal dan dekomposisi buruh menimbulkan kelas menengah dengan kata lain, populasi buruh sebagai kelompok bawah makin berkurang karena tidak terlepas dari kelas pekerja yang terorganisasi diri. Singkatnya hak-hak warga Negara ditunjang oleh dana pensiun, tunjangan pengangguran, jaminan kesehatan, bantuan hukum maupun ketentuan upah minimum, kalau terjadi konflik mengenai isu-isu perburuhan dapat diselesaikan melalui internal maupun badan hukum pemerintahan melalui fasilitas perundingan. Oleh karena itu tidak mungkin terjadi revolusi kelas seperti yang diramalkan oleh Karl Marx.
1. I. Gagasan-gagasan penting Ralf Dahrendorf
Dahrendorf tidak menolok bahwa didalam masyarakat terdapat consensus tetapi ia menegaskan bahwa konflik adalah structural dalam kehidupan sosial dan ini merupakan kegagalan sosiologi bahkan ilmuwan sosiologi untuk menjelaskan konflik sebagai fenomena sosial oleh karena itu Dahrendorf menekankan dialektika tentang konflik sosial yang berkaitan dengan pentingnya peran kewenangan dan kekuasan ( power). Ralf Dahrendorf menjelaskan perbedaan kekuasan dan wewenang, ini terletak pada kenyatan bahwa kekuasan pada dasarnya berhubungan dengan kepribadian individual dan wewenang berkaitan dengan posisi dan peranan sosial seseorang. Dari asumsi yang dikemukan oleh Dahrendorf maka ia mengambil referensi modal yaitu:
a) Pembagian wewenang dalam perserikatan adalah penyebab utama terbentuknya kelompok-kelompok yang bertentangan.
b) Dikotomi dalam setiap perserikatan adalah penyebab terbentuknya 2 kelompok yang bertentangan.
Secara singkat Dahrendorf menjelaskan secara detail yaitu hubungan wewenang adalah selalu berbentuk hubungan antara supra dan subordinasi bersifat atas bawah, dimana dengan perintah dapat mengendalikan yang ada dibawahnya dan wewenang ini secara relative dilekatkan pada posisi sosial daripada pribadi individual serta hubungan wewenang selalu meliputi spesifikasi orang-orang yang tunduk pada pengendalian dan spesifikasi dalam bidang-bidang yang mana pengendalian itu diperbolehkan dan tidak digeneralisasikan. Wewenang adalah bentuk yang sah dari badan hukum. Dahrendorf menjelaskan perserikatan adalah Negara, gereja, perusahaan, partai politik, serikat buruh dan klub.
Dahrendrof juga menjelaskan teori konflik dengan pendekatan konsep dialektis seperti yang dikutip oleh Timasheef dan Theodorson (1979: 280) adalah :
“ modal konflik dialektis ada karena sumber konflik sosial terlihat sudah tidak terelakan, muncul dari pembagian inheren dari semua organisasi sosial kedalam 2 kategori peran yang berlawanan yaitu mereka yang memiliki otoritas dan subordinate.”
Kelompok-kelompok yang bertentangan tidak semua asosiasi menyadari kepentingannya sehingga dibagi dalam kelompok yang belum menyadari konflik yaitu kepentingan laten dan kelompok dalam suatu asosiasi yang sudah menyadari adanya konflik kepentingan yang disebut kepentingan manifes, kepentingan laten berpotensial yang ditentukan oleh seseorang dan memiliki peran tertentu hingga dapat berubah dalam bentuk kepentingan nyata atau manifest, selanjutnya kelompok yang belum menyadari kepentingannya dan menjadi sadar kepentingannya sehingga terbentuk kelompok semu dengan cirri-ciri sebagai berikut yaitu sebuah inti atau system nilai yang bertujuan bersama, personal, orang-orang yang mengaturnya, adanya norma tertentu, adanya peralatan material, ada kegiatan tertentu yang teratur dan fungsi objektif.
Didalam kelompok semu ini terbentuk kelompok kepentingan namun ada perbedaan antara kelompok semu dengan kelompok kepentingan yaitu kelompok manifest ini lebih pada gagasan, ide serta membuat program-program sedangkan kelompok kepentingan sudah seperti partai politik, serikat dagang dan bentuk lembaga lainnya, kelompok kepentingan ini berpotensi menjadi kelompok konflik, hal ini berhubungan dengan 3 faktor yaitu kondisi teknik organisasi yang bergantung pada pembentukan kepemipinan dan kader dalam kelompok semu dan diperlukan bagaimana membangun ideologi dan system kepemimpinan, kondisi politis yang bergantung pada kelompok dominan untuk mengizinkan memperbolehkan berdirikan organisasi besar yang memiliki kepentingan berlawanan sehingga dapat leluasan bergerak, dalam system Negara yang demokrasi, kelompok kepentingan makin diuntungkan tetapi dalam system Negara totaliter, sangat kecil kelompok kepentingan bergerak leluasa, selanjutnya kondisi sosial yang berkaitan dengan kesempatan anggota semu berkomunikasi dan merekrut anggota-anggota.
Dalam memahami semua gagasan Dahrendorf dapat dirangkum dalam beberapa point yaitu:
1. Semakin sedikit kondisi teknikal, sosial, dan politik dari organisasi, semakin hebat konflik yang terjadi.
2. Semakin sedikit mobilitas anyara kelompok yang memiliki otoritas, semakin hebat konflik akan terjadi.
3. Semakin sedikit kondisi tekniukal. sosial, dan politik dari organisasi, semakin hebat kekerasan akan terjadi.
4. Semakin kecil kemampuan kelompok-kelompok konflik mengembangkan kesepakatan terkait dengan pengaturan, semakin besar kekerasan akan terjadi.
5. Semakin hebat konflik, semakin akan terjadi reorganisasi dan perubahan structural.
6. Semakin banyak kekerasan ada di konflik, semakin besar tingkatan reorganisasi dan perubahan structural (idem,lihat juga dalam George Ritzer (terjemah), 2004 : 157).
Teori Konflik C Wright Mills (1916-1962) di Waco adalah sosiolog Amerika yang berusaha menggabungkan perspektif konflik dengan kritik terhadap keteraturan sosial, tema-tema yang diangkat oleh Mills adalah hubungan antara alienasi dan birokrasi dan kekuasan kaum elit. Mills mengecam kapitalisme dan birokrasi modern karena menyebabkan alienasi dalam diri pekerja atau karyawan.
Di Amerika kedudukan atau posisi penting banyak dikuasai oleh kaum elit dalam bidang militer, ekonomi, politik. Mills sepaham dengan teori Marxis dan Neo-Marxis dalam hal alienasi, efek dari struktur sosial terhadap kepribadian dan manipulasi manusia oleh media tapi yang membedakan dari tokoh-tokoh sebelumnya ia tidak melihat pemilikan pribadi sebagai sumber kejahatan di dalam masyarakat.
Teori konflik dari Jonathan Turner, dia mengemukan 3 persoalan utama dalam teori konflik yaitu tidak ada definisi yang jelas mengenai konflik atau apa yang bukan konflik, kedua, teori konflik dilihat mengambang karena tidak menjelaskan unit analisis secara jelas, apakah itu konflik individu, kelompok, institusi, organisasi atau konflik antar bangsa. Ketiga adalah teori konflik ini merupakan reaksi dari teori fungsionalisme structural maka sulit dipisahkan dari teori tersebut. Turner mempusatkan pada konflik sebagai suatu proses dari peristiwa-peristiwa atau fenomena yang mengarah pada interaksi yang disertai kekerasan antara 2 pihak atau lebih dan Turner juga menjelaskan konflik yang terbuka, singkatnya adalah system sosial terdiri dari unit-unit yang saling berhubungan satu sama lainnya dan didalamnya terdapat ketidak-keseimbangan atas pembagian kekuasan dan kelompok-kelompok yang tidak memiliki kekuasan mulai mempertanyakan legistimasi, pertanyaan tersebut mengubah kesadaran untuk mengubah system alokasi kekuasan. Kesadaran dari kelompok yang tidak memiliki kekuasan menimbulkan kemarahan dan menyebabkan semakin tegang akhirnya terjadi konflik terbuka antara kelompok yang berkuasa dan tidak berkuasa.

Secara sederhana dapat dikatakan bahwa teori Dahrendorf melakukan kombinasi antara fungsionalisme (tentang struktur dan fungsi masyarakat) dengan teori (konflik) antar kelas sosial. Teori sosial Dahrendorf berfokus pada kelompok kepentingan konflik yang berkenaan dengan kepemimpinan, ideologi, dan komunikasi di samping tentu saja berusaha melakukan berbagai usaha untuk menstrukturkan konflik itu sendiri, mulai dari proses terjadinya hingga intensitasnya dan kaitannya dengan kekerasan. Jadi bedanya dengan fungsionalisme jelas, bahwa ia tidak memandang masyarakat sebagai sebuah hal yang tetap/statis, namun senantiasa berubah oleh terjadinya konflik dalam masyarakat. Dalam menelaah konflik antara kelas bawah dan kelas atas misalnya, Dahrendorf menunjukkan bahwa kepentingan kelas bawah menantang legitimasi struktur otoritas yang ada. Kepentingan antara dua kelas yang berlawanan ditentukan oleh sifat struktur otoritas dan bukan oleh orientasi individu pribadi yang terlibat di dalamnya. Individu tidak harus sadar akan kelasnya untuk kemudian menantang kelas sosial lainnya.
2.karl marx
Teori konflik muncul sebagai reaksi dari munculnya teori struktural fungsional. Pemikiran yang paling berpengaruh atau menjadi dasar dari teori konflik ini adalah pemikiran Karl Marx. Pada tahun 1950-an dan 1960-an, teori konflik mulai merebak. Teori konflik menyediakan alternatif terhadap teori struktural fungsional.
Pada saat itu Marx mengajukan konsepsi mendasar tentang masyarakat kelas dan perjuangannya. Marx tidak mendefinisikan kelas secara panjang lebar tetapi ia menunjukkan bahwa dalam masyarakat, pada abad ke-19 di Eropa di mana dia hidup, terdiri dari kelas pemilik modal (borjuis) dan kelas pekerja miskin sebagai kelas proletar. Kedua kelas ini berada dalam suatu struktur sosial hirarkis, kaum borjuis melakukan eksploitasi terhadap kaum proletar dalam proses produksi. Eksploitasi ini akan terus berjalan selama kesadaran semu eksis (false consiousness) dalam diri proletar, yaitu berupa rasa menyerah diri, menerima keadaan apa adanya tetap terjaga. Ketegangan hubungan antara kaum proletar dan kaum borjuis mendorong terbentuknya gerakan sosial besar, yaitu revolusi. Ketegangan tersebut terjadi jika kaum proletar telah sadar akan eksploitasi kaum borjuis terhadap mereka.
Ada beberapa asumsi dasar dari teori konflik ini. Teori konflik merupakan antitesis dari teori struktural fungsional, dimana teori struktural fungsional sangat mengedepankan keteraturan dalam masyarakat. Teori konflik melihat pertikaian dan konflik dalam sistem sosial. Teori konflik melihat bahwa di dalam masyarakat tidak akan selamanya berada pada keteraturan. Buktinya dalam masyarakat manapun pasti pernah mengalami konflik-konflik atau ketegangan-ketegangan. Kemudian teori konflik juga melihat adanya dominasi, koersi, dan kekuasaan dalam masyarakat. Teori konflik juga membicarakan mengenai otoritas yang berbeda-beda. Otoritas yang berbeda-beda ini menghasilkan superordinasi dan subordinasi. Perbedaan antara superordinasi dan subordinasi dapat menimbulkan konflik karena adanya perbedaan kepentingan.
Teori konflik juga mengatakan bahwa konflik itu perlu agar terciptanya perubahan sosial. Ketika struktural fungsional mengatakan bahwa perubahan sosial dalam masyarakat itu selalu terjadi pada titik ekulibrium, teori konflik melihat perubahan sosial disebabkan karena adanya konflik-konflik kepentingan. Namun pada suatu titik tertentu, masyarakat mampu mencapai sebuah kesepakatan bersama. Di dalam konflik, selalu ada negosiasi-negosiasi yang dilakukan sehingga terciptalah suatu konsensus.
Menurut teori konflik, masyarakat disatukan dengan “paksaan”. Maksudnya, keteraturan yang terjadi di masyarakat sebenarnya karena adanya paksaan (koersi). Oleh karena itu, teori konflik lekat hubungannya dengan dominasi, koersi, dan power.











Tugas teori sosiologi kontemporer 2010

struktur fungsional menurut robert k merton(sosiologi kontemporer)

BAB I
PENDAHULUAN

Robert K.Merton adalah salah seorang tokoh sosiologi kontemporer yang hidup pada awal 20, dianggap sebagai pendukung model fungsionalisme stuktural yang paling moderat dewasa ini, analisis fungsional Merton sesungguhnya merupakan hasil perkembangan pengetahuannya yang menyeluruh menyangkutpara ahli teori-teori sosiologi klasik. Dia mencoba menyempurnakan berbagai konsep pemikiran “Durkheim” dan “Weber” dengan memusatkan perhatian pada struktur sosial, bahwa birokrasi merupakan struktur sosial yang terorganisasir secara rasional dan formal, meliputi pola kegiatan yang jelas dan berhubungan dengan tujuan organisai. Diskripsi Merton tidak terbatas pada struktur melainkan terus dikembangkan pada pembahasan tentang kepribadian sebagai produk organisasi stuktural .
Untuk lebih jelasnya akan dibahas pada bab selanjutnya.

















BABII
PEMBAHASAN

Robert K.Merton sebagai seorang yang mungkin dianggap lebih dari ahli teori lainnya telah mengembangkan pernyataan mendasar dan jelas teori-teori fungsionalisme, adalah seorang pendukung yang mengajukan tuntutan lebih terbatas bagai perspektif ini. Mengakui bahwa pendekatan ini telah membawa kemajuan bagi pengetahuan sosiologis, ia juga mengakui bahwa fungsionalisme struktural mungkin tidak akan mampu mengatasi seluruh masalah sosial.

A. Struktural Sosial Dalam Fungsionalisme Robert K. Merton
.
Model analisis fungsional Merton merupakan hasil perkembangan pengetahuannya yang menyeluruh tentang ahli-ahli teori klasik.
Kemudian Merton mengamati beberapa hal dalam organisasi birokrasi moderennya yaitu :
1. Birokrasi merupakan struktur sosial yang terorganisir secara rasional dan formal.
2. Ia meliputi suatu pola kegiatan yang memiliki batas-batas yang jelas.
3. Kegiatan-kegiatan tersebut secara ideal berhubungan dengan tujuan-tujuan organisasi.
4. Jabatan-jabatan dalam organisasi diintegrasikan kedalam keseluruhan struktur birokrasi.
5. Status-status dalam birokrasi tersusun kedalam susunan yang bersifat hirarkis.
6. Berbagai kewajiban serta hak-hak d dalam birokrasi dibatasi oleh aturan-aturan yang terbatas serta terperinci.
7. Otoritas pada jabatan, bukan pada orang.
8. Hubungan-hubungan antara orang-orang diabtasi secara formal.
Merton tidak berhenti dengan deskripsi tentang stuktrul, akan tetapi terus membahas kepribadian sebagai produk organisasi struktural tersebut. Struktur birokratis memberi tekanan terhadap individu sehingga mereka menjadi “disiplin, bijaksana, metodis”. Tetapi tekanan ini kadang-kadang menjurus pada kepatuhan mengikuti peraturan secara membabi buta tanpa mempertimbangkan tujuan dan fungsi-fungsi untuk apa aturan-aturan itu pada mulanya dibuat. Walaupun aturan-aturan tersebut dapat berfungsi bagi efisensi organisasi, tetapi aturan-aturan yang demikian dapat juga memberikan fungsi negatif dengan menimbulkan kepatuhan yang berlebih-lebihan. Hal ini bisa menjurus pada konflik atau ketegangan antara birokrat dan orang-orang yang harus mereka layani.
Ambilah contoh mahasiswa yang mencoba meminjam buku cadangan yang hanya bisa dibaca di perpustakaan, pada saat perpustakaan tersebut akan tutup dan berjanji mengembalikan pada hari berikutnya pada saat perpustakaan sudah dibuka kembali. Pegawai perpustakaan, yang menolak permintaan itu, harus tunduk pada peraturan bahwa buku tersebur tidak diedarkab diluar perpustakaan. Sang mahasiswa menjadi bingung, sebab dia tahu benar bahwa tak seorangpun yang akan membaca buku itu setelah perpustakaan tutup. Akan tetapi peraturan tetap peraturan, dan pegawai menganggap bahwa mereka harus mematuhinya.
Struktur birokratis dapat melahirkan tipe kepribadian yang lebih mematuhi peraturan-peraturan tertulis daripada semangat untuk apa peraturan itu diterapkan. Metron mengusulkan suatu penelitian empiris mengenai dampak birokrasi terhadap kepribadian yang akan menunjukkan saling ketergantungan.

B. Paradigma Analisa Fungsional Merton
Merton memulai analisa fungsionalnya dengan menunjukkan perbendaharaan yang tidak tepat serta beberapa asumsi atau postulat kabur yang terkandung dalam teori fungsionalisme. Merton mengeluh terhadap kenyataan bahwa “sebuah istilah terlalu sering digunakan untuk melambangkan konsep-konsep yang berbeda-beda, seperti halnya dengan konsep yang sama digunakan sebagai simbol dari istilah-istilah yang berbeda” (Merton 1976: 74). Konsep-konsep sosilogi seharusnya memiliki batasn yang jelas bilamana mereka harus berfungsi sebagai bangunan dasar dari proposisi-proposisi yang dapat diuji. Lebih dari pada itu, proposisi-proposisi harus dinyatakan dengan jelas tanpa berwayuh arti. Model Merton mencoba membuat batasan beberapa konsep analitis dasar bagi analisa fungsional dan menjelaskan bebepara ketidakpastian arti yang di dalam postulat-postulat kaum fungsional.
Merton mengutip tiga postulat yang dapat di dalam analisa fungsional yang kemudian disempurnakannya satu demi satu yaitu sebagai berikut :
1. Adalah kesatuan fungsional masyarakat yang adapt dibatasi sebagai “suatu keadaan dimana seluruh bagian dari sistem sosial bekerjasama dalam suatu tingkat keselarasan atau kosistensi internal yang memadai, tanpa menghasilkan konflik berkepanjangan yang tidak dapat dibatasi atau diatur”. Merton menegaskan bahwa kesatuan fungsional yang sempurna dari suatu masyarakat adalah “bertentangan dengan fakta”. Sebagai contoh dia mengutip beberapa kebiasaan masyarakat yang dapat bersifat fungsional bagi suatu kelompok (menunjang integrasi dan kohesi suatu kelompok) akan tetapi disfungsional (mempercepat kehancuran) bagi kelompok lain.
Paradigma Merton menegaskan bahwa disfungsi (elemen disintegratif) tidak boleh diabaikan hanya karena orang begitu terpesona oleh fungsi-fungsi positif (elemen integratif). Ia juga menegaskan apa yang fungsionla bagi suatu kelompok dapat tidak fungsionla begi keseluruhan, oleh karena itu batas-batas kelompok yang dianalisa harus terperinci.
2. Yaitu fungsionalisme universal, berkaitan dengan postulat pertama. Fungsionalisme universal menganggap bahwa “seluruh bentuk sosial dan kebudayaan yang sudah baku memiliki fungsi-fungsi positif” (Merton 1967: 84). Sebagaimana sudah kita ketahui, Merton memperkenalkan konsep difungsi maupun fungsi positif. Beberapa perilaku sosial jelas bersifat disfungsional. Merton menganjurkan agar elemen-elemen kultural seharusnya dipertimbangkan menurut kriteria keseimbangan konsekuensi-konsekuensi fungsional (bet balance of functional consequences), yang menimbang fungsi positif terhadap fungsi negatif. Sehubungan dengan kasus agama di Irlandia Utara tadi seorang fungsionalis harus mencoba mengkaji fungsi positif maupun negatifnya, dan kemudian menetapkan apakah keseimbangan diantara keduanya lebih menunjuk pada fungsi negatif atau positif.
3. Yang melengkapi trio postulat fungsionalisme, adalah postulat indispensability. Ia menyatakan bahwa “dalam setiap tipe peradaban, setiap kebiasaan, ide, obyek materil, dan kepercayaan memenuhi beberapa fungsi penting, memiliki sejumlah tugas yang ahrus dijalankan, dan merupakan bagian penting yang tidak dapat dipisahkan dalam kegiatan sistem sebagai keseluruhan. Menurut Merton postulat ini masih kabur. Belum jelas apakah fungsi (suatu kebutuhan sosial, seperti reproduksi anggota-anggota baru) atau item (sebuah norma, seperti keluarga batih), merupakan suatu keharusan.
Merton menulis, pendek kata postulat indispensability sebagaimana yang sering dinyatakan mengandung dua pernyataan yang berkaitan, tetapi dapat dibedakan satu sama lain. Pertama, bahwa ada beberapa fungsi tertentu yang bersifat mutlak dalam penegrtian, bahwa kecuali apabila mereka dijalankan, maka masyarakat (atau kelompok maupun individu) tidak akan ada.

C. Kritik Terhadap Fungsionalisme
Merton pertama kali mengembangkan paradigmanya pada tahun 1948 untuk merangsang peneliti untuk menggunakan teori fungsionalisme struktural. Apa yang ia tawarkan segera menjadi model bagi perkembangan teori-teori yang secara ideal menyatu dengan penelitian sosiologis fungsionalisme struktural ini, kadangkala secara tidak adil, mendapat serangan dari berbagai penjuru, termasuk dari para ahli teori konflik dan psikologi sosial. Kita akan memperhatikan beberapa asumsi umum yang ternyata melekat dalam fungsionalisme dan kritik-kritik yang ditimbulkan oleh asumsi-asumsi itu. Kemudian kita akan menghubungkan asumsi tersebut dengan fungsionalisme-Merton.
Seperti halnya dengan semua teori, fungsionalisme struktural juga bertumpu pada sejumlah asumsi tertentu tentang hakikat manusia dan masyarakat. Asumsi-asumsi tersebut cenderung bersifat konservatif lebih terpusat pada struktur sosial yang ada daripada perubahan sosial. Masyarakat dianggap terdiri dari bagian-bagian yang secar teratur salng berkaitan. Walaupun skema pardigma Merton merupakan penyempurnaan dari fungsionalisme yang lebih awal, tetapi dia masih tetap saja menekankan kesatuan, stabilitas dan harmoni sistem sosial.
Fungsionalisme struktural tidak hanya berlandaskan pada asumsi-asumsi tertentu tentang keteraturan masyarakat, tetapi juga memantulkan asumsi-asumsi tertentu tentang hakikat manusia. Di dalam fungsionalisme, manusia diperlakukan sebagai abstraksi yang menduduki status dan peranan yang membentuk lembaga-lembaga atau struktur-struktur sosial. Di dalam perwujudannya yang ekstrim, fungsionalisme struktural secara implisit memeprlakukan manusia sebagai pelaku yang memainkan ketentuan-ketentuan yang telah dirancang sebelumnya, sesuai dengan norma-norma atau aturan-aturan masyarakat.
Sebagaimana halnya dengan kebanyakan ahli teori naturalistis, Merton menganggap bahwa orang dibentuk oleh struktur sosial dimana mereka hidup. Kita telah mencoba mempertegas arti pentingnya keterikatan Merton pada analisa struktur sosial. Tetapi gambaran Merton tentang manusia itu bukanlah merupakan suatu determinisme yang kaku. Sebagaimana dinyatakan oleh Stinchombe “prose ini yang dianggap Merton sebagai masalah sentral di dalam struktural sosial ialah pilihan diantara alternatif-alternatif yang terstruktur secara sosial”. Dengan kata lain ada pola-pola perilaku yang merupakan bagian dari aturan institusional (yang dengan demikian memungkinkan sosiologi untuk berkembang sebagai ilmu).
Konsepsi Meton tentang masyarakat berbeda dari konsepsi Emile Durkheim sebagai sesepuh analisa fungsionalisme struktural. Struktur-struktur sosial terintegrasi dan norma-norma yang ada mengendalikan para anggota mereka. Mereka benar-benar ada dan merupakan sasaran pengkajian ilmu sosiologi. Hal ini dapat dilihat dalam prioritas yang diberikan Meton pada analisa struktural di dalam sosiologi. Akan tetapi struktur sosial Merton tidaklah memiliki sifat statis sebagaimana yang disesalkan oleh banyak pengeritik fungsionalisme struktural. Persyaratan analisa struktural Merton mencakup pengakuan : (1) bahwa oleh karena proses diferensisasi, struktur sosial dapat menimbulkan konflik sosial, (2) bahwa ambivalensi sosiologi berkembang dalam struktur normatif dalam bentuk ketidaksesuaian harapan-harapan yang terpola, dan (3) bahwa struktur sosial menimbulkan perubahan di dalam struktur-struktur dan perubahan struktur itu sendiri. Walaupun struktur sosial Merton memiliki realitasnya sendiri-suatu realitas yang mempengaruhi mereka yang memiliki peranan dan status-ia tidaklah merupakan suatu realitas statis.
Merton mengakui bahwa analisa fungsionalisme struktural yang dikemukakannya hanya merupakan salah satu pendekatan dalam ilmu sosiologi, yang harus diakui sebagai pendekatan yang terbaik. Ia mengakui bahwa pendekatan yang idea adalah sebuah teori tunggal yang menyeluruh, akan tetapi dia merasakan adanya masalah “apabila apa yang idea itu dianggap sebagai hal yang ada sekarang ini”. Walaupun Merton pada umumnya terikat pada teori sosiologi naturalistis dan khususnya pada analisa fungsionalisme struktural, akan tetapi dia selalu berhati-hati untuk tidak berada did alam ketertutupan yang dangkal dengan menerimanya sebagai suati paradigma teoritis tunggal. Sebagaimana ia nyatakan :
Seandainya saya adalah seorang dokter yang dipanggil bukan hanya untuk membuat diagnosa akan tetapi juag terapi, maka pendapat saya adalah sebagai berikut : bahwa krisis sosiologis yang kronis tersebut, dengan segala keragaman, perasingan dan pertentangan antar doktrin yang ada di dalamnya, tampaknya menuntut suatu terapi yang kadang-kadang diusulkan untuk mengobati krisis yang bersifat akut, yakni suatu resep tunggal berupa wawasan teoritis yang menawarkan kebenaran sosiologis yang penuh dan eksklusif.

























BAB III
KESIMPULAN

Merton telah menghabiskan karir sosiologinya dalam mempersiapkan dasar struktur fungsional untuk karya-karya sosiologis yang lebih awal dan dalam mengajukan model atau paradigma bagi analisa struktural. Dia menolak postulat-postulat fungsionalisme yang masih emntah, yang menyebabkan paham “kesatuan masyarakat yang fungsional”, “fungsionalisme universal”, dan “indespensability”. Merton mengetengahkan konsep disfungsi, alternatif fungsional dan konsekuensi keseimbangan fungsional, serta fungsi manifes dan laten, yang dirangkainya kedalam suatu paradigma fungsionalis. Walaupun kedudukan model ini berada diatas postulat-postulat fungsionalisme yang elbih awal, tetapi kelemahannya masih tetap ada. Masyarakat dilihat sebagai keseluruhan yang lebih besar dan berbeda dengan bagian-bagiannya. Individu dilihat dalam kedudukan abstrak, sebagai pemilik status dan peranan yang merupakan struktur. Konsep abstrak ini memeprbesar tuduhan bahwa paradigma tersebut mustahil untuk diuji.
Beberapa teori Merton yang terungkap dari tiga postulat menjelaskan tentang kesatuan fungsional masyarakat yang dibatasi sebagai suatu keadaan dimana seluruh bagian dari sistem sosial bekerjasama dalam suatu tingkat keselarasan atau konsistensi internal yang memadai. Fungsionalisme universal menyatakan bahwa seluruh bentuk sosial dan kebudayaan yang sudah baku memiliki fungsi-fungsi positif, meskipun beberapa perilaku sosial cenderung bersifat disfungsional. Analisis terakhir dalam postulat indispensability menegaskan bahwa dalam setiap peradaban, setiap kebiasaan, ide, obyek material dan ekpercayaan memenuhi beberapa fungsi penting, memiliki sejumlah tugas yang harus dijalankan, karena merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan sistem secara keseluruhan. Merton sendiri mengkritisi postulatnya dengan pernyataan bahwa kita tidak mungkin mengharapkan terajdinya integrasi masyarakat secara sempurna.

Tahap-tahap untuk mendefenisikan diri sendiri adalah sbg brikut:

Nama :Michael Julpri Tarigan
Nim :090901071
Dapertemen :Sosiologi
Mata kuliah :Kontempoter
Dosen :Lina Sudarwati

Salah satu yang penting di hadapi manusia adalah mendefenisikan dirinya sendiri.Tahap-tahap untuk mendefenisikan diri sendiri adalah sbg brikut:
1. Tahap persiapan (Preparatory Stage)
2. Tahap meniru (Play Stage)
3. Tahap siap bertindak (Game Stage)
4. Tahap penerimaan norma kolektif (Generalized Stage/Generalized other)
Jika seseorang tidak mengalami proses perkembangan ini dengan benar secara bertahap secara sempurna.maka yang akan terjadi adalah :
jawaban

Sebelum kita menjawab pertanyaan di atas maka sebelumnya saya menjelaskan terlebih dahulu apakah itu:
• Tahap persiapan (Preparatory Stage)
Tahap ini dialami sejak manusia dilahirkan, saat seorang anak mempersiapkan diri untuk mengenal dunia sosialnya, termasuk untuk memperoleh pemahaman tentang diri. Pada tahap ini juga anak-anak mulai melakukan kegiatan meniru meski tidak sempurna.
Contoh: Kata "makan" yang diajarkan ibu kepada anaknya yang masih balita diucapkan "mam". Makna kata tersebut juga belum dipahami tepat oleh anak. Lama-kelamaan anak memahami secara tepat makna kata makan tersebut dengan kenyataan yang dialaminya.
• Tahap meniru (Play Stage)
Tahap ini ditandai dengan semakin sempurnanya seorang anak menirukan peran-peran yang dilakukan oleh orang dewasa. Pada tahap ini mulai terbentuk kesadaran tentang anma diri dan siapa nama orang tuanya, kakaknya, dan sebagainya. Anak mulai menyadari tentang apa yang dilakukan seorang ibu dan apa yang diharapkan seorang ibu dari anak. Dengan kata lain, kemampuan untuk menempatkan diri pada posisi orang lain juga mulai terbentuk pada tahap ini. Kesadaran bahwa dunia sosial manusia berisikan banyak orang telah mulai terbentuk. Sebagian dari orang tersebut merupakan orang-orang yang dianggap penting bagi pembentukan dan bertahannya diri, yakni dari mana anak menyerap norma dan nilai. Bagi seorang anak, orang-orang ini disebut orang-orang yang amat berarti (Significant other)
• Tahap siap bertindak (Game Stage)
Peniruan yang dilakukan sudah mulai berkurang dan digantikan oleh peran yang secara langsung dimainkan sendiri dengan penuh kesadaran. Kemampuannya menempatkan diri pada posisi orang lain pun meningkat sehingga memungkinkan adanya kemampuan bermain secara bersama-sama. Dia mulai menyadari adanya tuntutan untuk membela keluarga dan bekerja sama dengan teman-temannya. Pada tahap ini lawan berinteraksi semakin banyak dan hubunganya semakin kompleks. Individu mulai berhubungan dengan teman-teman sebaya di luar rumah. Peraturan-peraturan yang berlaku di luar keluarganya secara bertahap juga mulai dipahami. Bersamaan dengan itu, anak mulai menyadari bahwa ada norma tertentu yang berlaku di luar keluarganya.
• Tahap penerimaan norma kolektif (Generalized Stage/Generalized other)
Pada tahap ini seseorang telah dianggap dewasa. Dia sudah dapat menempatkan dirinya pada posisi masyarakat secara luas. Dengan kata lain, ia dapat bertenggang rasa tidak hanya dengan orang-orang yang berinteraksi dengannya tapi juga dengan masyarakat luas. Manusia dewasa menyadari pentingnya peraturan, kemampuan bekerja sama--bahkan dengan orang lain yang tidak dikenalnya-- secara mantap. Manusia dengan perkembangan diri pada tahap ini telah menjadi warga masyarakat dalam arti sepenuhnya.
Dana yang terjadi apabila seseorang tidak mengalami proses perkembangan diri tersebut secara bertahap dan sempurn maka yang terjadi adalah salah satunya Isolasi social yaitu suatu keadaan kesepian yan gdi hadapi oleh seseorang karanaorang lain menyatakan sikap yang negative dan mengancam seseorang/indivindu denagan prilaku menarik diri akan menghindari interaksi dengan orang lain.
Indivindu merasa bahwa dia merasa kehilanagn hubungan akrap dan tidak mempunayai kesekpatan untuk membagi prasaan. Pikiran dan prestasi atau kegagalan.Ia mempunyai kesulitan untuk berhubungan secara sepontan dengan orang lain,yanag di manivestasikan dengan sikap memeisahkan diri,tidak ada perhatian dan tidak sanggup membagi pengalaman dengan orang lain.
Perilaku menarik diri merupakan percobaan untuk menghindari interaksi dengan orang lain, menghindari hubungan dengan orang lain.
Penelitian menunjukkan, manusia dapat bangkit dari proses isolasi dalam jangka waktu pendek. Namun, ada bagian dari otak yang tidak akan berkembang dan rusak
secara permanen jika isolasi itu terjadi pada masa kanak-kanak dimana beberapa kemampuan, seperti kemampuan berbahasa, seharusnya dipelajari. Seorang anak akan tumbuh namun kemampuan dasarnya akan seperti anak kecil²seperti keterbelakangan atau kemunduran mental hasil pendidikan yang terlambat dilaksanakan. Dia tidak akan tumbuh dewasa dan biasanya mati muda. Harlows membuktikan hal ini dengan penelitiannya pada anak kera.
Begitu pun saat ia diisolasi oleh lingkungan sekitarnya. Dia akan dijauhi dan diperlakukan berbeda oleh orang-orang. Perlakuan ini akan membentuk dirinya yang
represif, penuh tekanan, dan rendah diri. Berbeda halnya jika dia yang menjauhi teman- temannya. Ia mengisolasi atau menutup dirinya dari orang lain. Orang seperti ini terkandung di dalam jiwanya sifat pemberontak walaupun orang akan menilainya
sebagai orang yang dingin.
Di sini dikenal yang namanya terpencil, yaitu kehilangan suatu hubungan yang diharapkan dengan orang lain. Rasa terpencil ini bisa juga ada saat berada di tengah orang banyak, tapi orang-orang itu tidak sesuai pendidikan, agama, golongan, dan sebagainya. Manusia yang terpencil di luar masyarakat manusia, biasanya mengalami kemunduran dalam hidupnya karena sifat-sifat kemanusiaannya tak sempat berkembang. Cara menghukum pun sering didasarkan atas rasa terpencil ini.

Pengaruh Perkembangan Pendidikan Terhadap masyarakat di indonesia

Nama : Michael Julpri Tarigan
Nim : 090901071
mata kuliah :Perubahan Sosial

Pengaruh Perkembangan Pendidikan Terhadap masyarakat di indonesia
Pada dasarnya, di mata Tuhan semua manusia memiliki derajat dan martabat yang sama. Namun manusialah yang membuat standar-standar penghormatan dan penghargaan tertentu sehingga terbentuk lapisan-lapisan sosial dalam kehidupan masyarakat. Terbentuknya lapisan-lapisan sosial tersebut membawa konsekuensi pada berkembangnya anggapan tentang adanya lapisan sosial yang dipandang lebih tinggi, lapisan sosial yang dipandang berada dalam posisi menengah, dan lapisan sosial yang dipandang lebih rendah dari lapisan-lapisan sosial lainnya.
Tinggi rendahnya seseorang dalam sebuah sistem pelapisan sosial tergantung pada status sosial yang dimiliki. Status sosial yang disandang oleh seseorang diperoleh berdasarkan penilaian dan pengakuan dari pendidikan masyarakat yang ada di lingkungan sekitarnya. Dalam hubungan ini, sosiolog Talcott Parsons menyebutkan adanya lima kriteria yang dapat dijadikan dasar untuk menentukan tinggi rendahnya status sosial seseorang, yakni :
(1) kelahiran, seperti: ras, jenis kelamin, kebangsawanan, dan sebagainya,
(2) kualitas atau mutu pribadi, seperti: kecerdasan, kebijaksanaan, kekuatan, keterampilan, dan sebagainya,
(3) prestasi, yakni karir seseorang dalam bidang pendidikan, jabatan, usaha, dan lain sebagainya, (4) kepemilikan atau kekayaan, yakni pencapaian seseorang dalam mengumpulkan harta kekayaan, dan
(5) kekuasaan dan wewenang, yakni besar kecilnya kemampuan seseorang dalam mempengaruhi orang lain.
Seperti yang telah dibahas di kelas dua, bahwa sistem pelapisan sosial ada yang bersifat tertutup dan ada pula yang bersifat terbuka. Sistem pelapisan sosial yang bersifat terbuka akan membuka celah bagi proses perubahan. Perubahan-perubahan lapisan sosial tersebut disebabkan oleh adanya perubahan orientasi sistem nilai dalam kehidupan masyarakat. Bagi bangsa Indonesia, setidaknya terdapat dua indikator utama yang menyebabkan terjadinya perubahan dalam sistem pelapisan sosial, yakni: (1) sistem kolonialisme dan imperialisme yang menginjak-injak kemerdekaan dan kedaulatan bangsa, baik dalam bidang sosial, ekonomi, politik, maupun kebudayaan, dan (2) industrialisasi yang dilaksanakan sebagai suatu upaya dalam menggalakkan pembangunan di tanah air. Dua indikator utama tersebut sedikit banyak telah merubah sistem nilai dan sistem norma dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat yang pada gilirannya telah memunculkan sistem pelapisan sosial yang baru yang berbeda sama sekali dengan sistem pelapisan sosial yang ada sebelumnya.
Bangsa Indonesia patut bersyukur karena telah dianugrahi berbagai kelebihan, seperti: kekayaan sumber daya alam (SDA) yang melimpah ruah, posisinya yang sangat strategis, yakni berada pada jalur persimpangan dunia, dan lain sebagainya. Beberapa kelebihan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia tersebut telah menarik perhatian negara-negara di dunia sejak ratusan tahun yang lalu hingga sekarang. Akibatnya, selama ratusan tahun kemerdekaan dan kedaulatan bangsa Indonesia untuk mengatur negerinya sendiri diinjak-injak oleh kaum kolonialis dan kaum imperialis yang serakah. Kaum kolonialis dan kaum imperialis dari Portugis, Spanyol, Inggris, Belanda, dan Jepang pernah merampas kemerdekaan dan kedaulatan bangsa Indonesia. Dari sekian banyak negara yang pernah menginjakkan kaki dan menjajah bangsa Indonesia tersebut, bangsa Belandalah yang paling lama, yakni sekitar 350 tahun.
Kaum kolonialis dan kaum imperialis telah menguasai seluruh bidang kehidupan bangsa Indonesia, terutama bidang politik, ekonomi, sosial, dan kebudayaan. Bahkan, untuk mempertahankan kekuasaannya, kaum kolonialis dan kaum imperialis telah memciptakan suasana sedemikian rupa sehingga bangsa Indonesia menjadi bangsa yang bodoh, miskin, dan rendah diri. Kaum kolonialis dan kaum imperialis tidak memberikan kesempatan kepada bangsa Indonesia untuk memperoleh pendidikan, jaminan kesehatan dan jaminan sosial terhadap bangsa Indonesia sangat rendah. Disamping itu kaum kolonialis dan kaum imperialis juga menerapkan rasdiskriminasi terhadap bangsa Indonesia pada semua aspek kehidupan. Berbagai macam perlakuan yang tidak manusiawi tersebut telah menyadarkan bangsa Indonesia, bahwa kolonialisme dan imperialismep merupakan momok yang harus dilenyapkan dari muka bumi.
Kolonialisme dan imperialisme telah meninggalkan bekas yang sangat dalam bagi kehidupan bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia telah ditempatkan sebagai bangsa kuli atau budak yang harus memberikan penghormatan yang setinggi-tingginya terhadap kaum kolonialis dan kaum imperialis. Adanya perubahan-perubahan dalam struktur sosial bangsa Indonesia selama masa kolonialisme dan imperialisme dijelaskan oleh sosiolog M.A. Jaspan dalam bukunya yang berjudul Social Stratification and Social Mobility in Indonesia. M.A. Jaspan mengatakan bahwa selama masa kolonialisme dan imperialisme, struktur sosial masyarakat Indonesia yang semula terdiri dari para kuli kenceng, kuli gundul, kuli karang kopek, dan indung tlosor telah mengalami perubahan, sebagai berikut. Para kuli kenceng berkembang menjadi kaum kulak yang kaya raya karena menguasai lahan pertanahan di pedesaan. Dengan kekayaan seperti itu kaum kulak mampu memperkerjakan kuli gundul dan kuli karang kopek untuk mengerjakan tanahnya dengan sistem bagi hasil.
Dalam keadaan seperti itu, lambat laun kaum kulak dapat menyaingi para bekel atau lurah yang merupakan penguasa tertinggi di desa. Bahkan, dalam perkembangan berikutnya, kaum kuli kenceng yang telah berkembang menjadi kaum kulak tersebut menjadi golongan priyayi yang mendapat penghormatan dan penghargaan yang sangat tinggi dalam pandangan masyarakat Jawa pada saat itu. Pola-pola yang dikembangkan oleh kaum kolonialis dan kaum imperialis di Indonesia telah membuat terciptanya struktur masyarakat baru, yang terdiri dari :
1. Lapisan masyarakat kelas 1
Terdiri dari orang-orang Belanda ditambah dengan kaum bangsawan dan kaum kuli kenceng yang telah naik statusnya menjadi kaum priyayi, setingkat dengan kaum bangsawan.
2. Lapisan masyarakat kelas 2
Terdiri dari orang-orang Tionghoa yang meraih sukses dalam menjalankan kegiatan perdagangan di Indonesia.
3. Lapisan masyarakat kelas 3
Terdiri dari orang-orang pribumi (penduduk asli Indonesia).
Lapisan masyarakat kelas 1 dan kelas 2 merupakan minoritas tetapi memiliki fungsi dan peran yang sangat dominan dalam berbagai bidang kehidupan, baik politik, ekonomi, sosial, maupun kebudayaan. Sedangkan lapisan masyarakat kelas 3 merupakan mayoritas, namun berposisi sebagai kelompok yang tertindas yang tidak mampu berbuat banyak terhadap lapisan masyarakat kelas 1 dan kelas 2 yang menginjak-injak harkat dan martabat kemanusiaannya. Dalam sistem pelapisan sosial tersebut, Belanda mengembangkan tradisi hubungan kawulo-gusti. Rakyat jelata harus memberikan penghormatan dan penghargaan yang setinggi-tingginya terhadap orang-orang Belanda, para bangsawan dan para priyayi, termasuk terhadap orang-orang Cina. Hubungan kawulo-gusti tersebut sengaja diciptakan dalam rangka pelaksanaan politik pecah belah dan kuasai (devide et impera). Dengan cara seperti itulah sistem kolonialisme dan sistem imperialisme yang diterapkan oleh Belanda mampu bertahan lama di Indonesia.
2. Pengaruh Industrialisasi terhadap Masyarakat Indonesia
Sejak meletusnya revolusi industri di Inggris pada abad ke-18, beberapa negara di belahan bumi, termasuk Indonesia, dilanda proses industrialisasi. Segera setelah Inggris mengalami perubahan struktur masyarakat secara besar-besaran dari masyarakat pertanian yang sederhana menjadi masyarakat industri yang sangat kompleks, negara-negara di kawasan Eropa, Rusia, Amerika Serikat, Jepang, dan negara-negara lainnya menyusul dalam penggalakan industrialisasi. Proses industrialisasi tersebut dilaksanakan sebagai konsekuenasi dari program pembangunan yang dilaksanakan dalam rangka mencapai tingkat kesejahteraan masyarakat sesuai dengan yang diharapkan.
Pada dasarnya industrialisasi merupakan suatu proses yang ditandai dengan peristiwa pergeseran tenaga kerja dan proses pergeseran produksi. Pergeseran tenaga kerja terjadi karena sebelum terjadi revolusi industri kegiatan produksi dilaksanakan dengan menggunakan tenaga otot, baik manusia maupun hewan sehingga proses produksi akan memakan waktu yang relatif lama. Sedangkan pergeseran produksi terjadi terjadi dari kegiatan produksi primer seperti mengolah lahan pertanian, menangkap ikan, pertambangan yang menggunakan tenaga manusia, menjadi kegiatan produksi sekunder yang lebih mengutamakan penggunaan tenaga mesin berteknologi tinggi.
Proses industrialisasi yang semula bergerak dalam bidang perekonomian, lambat laun membawa akses yang sangat luas, baik yang bersifat positif maupun yang bersifat negatif . Dampak positif dari proses industrialisasi di antaranya adalah tersedianya barang-barang yang berkualitas dalam jumlah yang cukup banyak. Keadaan seperti ini telah mempermudah kehidupan umat manusia. Adapun beberapa dampak negatif yang ditimbulkan dari proses industrialisasi antara lain adalah: (1) terbengkalainya lahan pertanian di pedesaan karena para petani lebih memilih kerja di lapangan industri yang dianggap lebih menjanjikan, (2) meningkatnya arus urbanisasi sehingga mengakibatkan terjadinya penumpukan tenaga kerja di kota, (3) meningkatnya jumlah pengangguran yang disebabkan karena para pemuda tidak lagi tertarik untuk bekerja pada sektor pertanian, sedangkan sektor perindustrian tidak mampu menyerap seluruh tenaga kerja yang tersedia, (4) meningkatnya tindak kejahatan sebagai akibat dari meningkatnya jumlah pengangguran, dan lain sebagainya.
Proses industrialisasi telah mendorong terjadinya perubahan yang bersifat vertikal dalam kehidupan bermasyarakat. Hiruk-pikuk proses perindustrian telah menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga masyarakat semakin meninggalkan sistem nilai dan sistem norma yang bersifat radisional, digantikan dengan sistem nilai dan sistem norma sebagaimana yang dianut dalam paham liberal kapitalis. Pada era industrialisasi, masyarakat akan memberikan penghargaan dan penghormatan yang tinggi terhadap siapa saja yang memiliki modal dan siapa saja yang mampu menciptakan lapangan pekerjaan. Dengan demikian, faktor kualitas pribadi yang dimiliki oleh seseorang dipandang lebih bernilai dibandingkan dengan faktor-faktor yang bersifat keturunan.
Berbeda dengan tradisi feodalisme, sistem pelapisan sosial yang terdapat pada masyarakat industri bersifat terbuka. Siapapun orangnya yang memiliki modal dan memiliki kualitas pribadi yang handal akan menempati posisi yang sangat tinggi selaras dengan penghargaan dan penghormatan oleh masyarakat yang ada di lingkungannya. Kondisi seperti itu akan memberikan kesempatan yang seluas-luasnya bagi siapapun yang berkeinginan untuk melakukan mobilitas sosial dalam rangka memperjuangkan kualitas kehidupannya. Struktur sosial dalam masyarakat industri lebih dominan didasarkan atas kriteria ekonomi. Artinya, ukuran kekayaan menjadi pertimbangan utama dalam menempatkan status seseorang sesuai dengan kelasnya. Semakin banyak kekayaan yang dimiliki seseorang akan semakin meningkatkan status sosialnya. Atas dasar ukuran ekonomi seperti itu, sistem pelapisan sosial dalam masyarakat industri terdiri dari tiga komponen, yaitu: (1) kelompok masyarakat kelas atas (upper class), (2) kelompok masyarakat kelas menengah (middle class), dan (3) kelompok masyarakat kelas bawah (lower class).
Ukuran-ukuran kekayaan tersebut mendorong masyarakat untuk memberikan penilaian terhadap tinggi rendahnya kekayaan yang dapat dihasilkan oleh mata pencaharian tertentu. Akibatnya, masyarakat memberikan penghormatan dan penghargaan yang tinggi terhadap siapa saja yang berhasil mencapai pekerjaan yang dianggap banyak mendatangkan kekayaan. Sebaliknya, masyarakat memandang remeh terhadap pekerjaan yang tidak banyak menghasilkan rejeki. Atas dasar ukuran-ukuran prestise tersebut, terbentuklah pelapisan sosial berdasarkan mata pencaharian, sebagai berikut:
1. Kaum Elite, yakni kelompok orang kaya, seperti usahawan dan kelompok lainnya yang menempati kedudukan yang sangat tinggi.
2. Kaum Profesional, yakni kelompok orang yang memiliki kemampuan tertentu berdasarkan disiplin akademis yang diperoleh melalui jalur pendidikan tinggi.
3. Kaum Semi-profesional, yakni para pekerja di kantor-kantor, perdagangan, perusahaan tetapi kurang didukung oleh latar belakang akademis yang memadai dari pendidikan tinggi.
4. Tenaga Terampil, yakni kelompok orang yang memiliki keterampilan dalam bidang teknik dan mekanik seperti sopir, pekerja pabrik, pemangkas rambut, dan lain sebagainya.
5. Tenaga Tidak Terlatih, yakni kelompok orang yang tidak memiliki kemampuan tertentu sehingga memilih bekerja sebagai tukang kebun, pemulung, pembantu rumah tangga, dan lain sebagainya.

Tahap Perkembangan anak Menurut George H Mead


Nama :Michael Julpri Tarigan
Nim :090901071
Dapertemen :Sosiologi
Mata kuliah :Kontempoter
Dosen :Lina Sudarwati

Salah satu yang penting di hadapi manusia adalah mendefenisikan dirinya sendiri.Tahap-tahap untuk mendefenisikan diri sendiri adalah sbg brikut:
1. Tahap persiapan (Preparatory Stage)
2. Tahap meniru (Play Stage)
3. Tahap siap bertindak (Game Stage)
4. Tahap penerimaan norma kolektif (Generalized Stage/Generalized other)
Jika seseorang tidak mengalami proses perkembangan ini dengan benar secara bertahap secara sempurna.maka yang akan terjadi adalah :
jawaban
Sebelum kita menjawab pertanyaan di atas maka sebelumnya saya menjelaskan terlebih dahulu apakah itu:
• Tahap persiapan (Preparatory Stage)
Tahap ini dialami sejak manusia dilahirkan, saat seorang anak mempersiapkan diri untuk mengenal dunia sosialnya, termasuk untuk memperoleh pemahaman tentang diri. Pada tahap ini juga anak-anak mulai melakukan kegiatan meniru meski tidak sempurna.
Contoh: Kata "makan" yang diajarkan ibu kepada anaknya yang masih balita diucapkan "mam". Makna kata tersebut juga belum dipahami tepat oleh anak. Lama-kelamaan anak memahami secara tepat makna kata makan tersebut dengan kenyataan yang dialaminya.


• Tahap meniru (Play Stage)
Tahap ini ditandai dengan semakin sempurnanya seorang anak menirukan peran-peran yang dilakukan oleh orang dewasa. Pada tahap ini mulai terbentuk kesadaran tentang anma diri dan siapa nama orang tuanya, kakaknya, dan sebagainya. Anak mulai menyadari tentang apa yang dilakukan seorang ibu dan apa yang diharapkan seorang ibu dari anak. Dengan kata lain, kemampuan untuk menempatkan diri pada posisi orang lain juga mulai terbentuk pada tahap ini. Kesadaran bahwa dunia sosial manusia berisikan banyak orang telah mulai terbentuk. Sebagian dari orang tersebut merupakan orang-orang yang dianggap penting bagi pembentukan dan bertahannya diri, yakni dari mana anak menyerap norma dan nilai. Bagi seorang anak, orang-orang ini disebut orang-orang yang amat berarti (Significant other)
• Tahap siap bertindak (Game Stage)
Peniruan yang dilakukan sudah mulai berkurang dan digantikan oleh peran yang secara langsung dimainkan sendiri dengan penuh kesadaran. Kemampuannya menempatkan diri pada posis